Pernahkah kamu merasa lelah tanpa alasan yang jelas? Sulit tidur meski tubuh terasa berat, atau tiba-tiba menangis tanpa tahu sebabnya? Kalau iya, kamu tidak sendirian, dan yang lebih penting: itu bukan berarti kamu lemah.
Di balik foto-foto estetik Instagram dan tawa di koridor sekolah, ada sebuah krisis yang diam-diam menggerogoti generasi kita. Krisis itu bernama gangguan kesehatan mental remaja, dan skalanya jauh lebih besar dari yang kebanyakan orang sadari.
Pada tahun 2022, Indonesia untuk pertama kalinya melakukan survei kesehatan mental remaja berskala nasional yang disebut Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS). Survei ini merupakan kolaborasi antara Universitas Gadjah Mada, University of Queensland Australia, dan Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health Amerika Serikat.
Survei tersebut menemukan bahwa 1 dari 3 remaja Indonesia atau setara dengan 15,5 juta orang memiliki setidaknya satu masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Sementara itu, 1 dari 20 remaja, atau sekitar 2,45 juta orang, bahkan telah didiagnosis mengalami gangguan mental sesuai standar DSM-5 (panduan diagnosis internasional).
Data dari Kementerian Kesehatan RI (2023) juga mengungkap bahwa sekitar 20% penduduk Indonesia, yakni sekitar 54 juta orang mengalami gangguan mental emosional, dan prevalensi depresi tertinggi justru berada pada kelompok usia 15–24 tahun, yakni sebesar 2%.
Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa 1 dari 7 anak usia 10–19 tahun mengalami kondisi kesehatan mental. Depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku menjadi penyebab utamanya.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Di baliknya ada nama, ada cerita, ada teman sekelasmu, mungkin juga dirimu sendiri.
Apa yang Paling Banyak Dialami Remaja?
Menurut data I-NAMHS, gangguan kecemasan menjadi masalah kesehatan mental yang paling umum di kalangan remaja Indonesia:
Selain itu, I-NAMHS mencatat bahwa 64,7% remaja mengalami gangguan dalam hubungan dengan keluarga, 41,1%mengalami masalah dengan teman sebaya, dan 39,3% merasakan dampaknya pada performa sekolah.
Mengapa Ini Terjadi?
Masa remaja sering diketahui sebagai masa yang bukan mudah. Ini adalah periode perubahan fisik, emosional, dan sosial secara bersamaan. Namun ada beberapa faktor yang membuat generasi kita lebih rentan:
Di sinilah masalah terbesarnya. Meski jutaan remaja berjuang dengan kondisi mental mereka, data I-NAMHS menunjukkan bahwa hanya 2,6?ri remaja yang mengalami masalah kesehatan mental yang benar-benar menggunakan layanan konseling atau fasilitas kesehatan mental.
Mengapa?
Jawabannya satu kata: stigma.
Banyak remaja takut dicap "gila", dianggap lemah, atau diremehkan saat mengakui bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja. Lingkungan keluarga dan sekolah yang belum sepenuhnya memahami kesehatan mental membuat remaja memilih untuk memendam semuanya sendiri.
Padahal, penelitian menunjukkan bahwa 9,8% remaja pernah berpikir untuk bunuh diri, dan data BRIN mencatat bahwa dari 2.112 kasus bunuh diri di Indonesia sepanjang 2012–2023, sekitar 46,63% di antaranya melibatkan remaja. Bunuh diri bahkan menjadi penyebab kematian ketiga tertinggi pada kelompok usia 15–29 tahun.
Ini bukan masalah kecil. Ini darurat.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Kabar baiknya: ada hal-hal nyata yang bisa dilakukan, baik oleh kita sebagai remaja, maupun oleh orang-orang di sekitar kita.
Untuk diri sendiri:
Layanan Yang Tersedia

Penutup: Sehat Bukan Hanya Soal Fisik
Selama ini kita terbiasa memeriksakan diri ke dokter saat demam atau batuk. Tapi kapan terakhir kali kita memeriksakan kondisi dalam diri kita?
Kesehatan mental bukan kemewahan. Ia adalah bagian tak terpisahkan dari kesehatan secara menyeluruh. Dan generasi kita, Generasi Z yang akan mewarisi Indonesia 2045, tidak bisa mencapai potensinya jika jiwa kita tidak sehat.
Sudah saatnya kita berhenti bertanya "kamu lemah ya?" dan mulai bertanya, "kamu baik-baik saja?"
Karena mungkin, itu satu pertanyaan yang bisa mengubah segalanya.
Referensi :