Logo
Loading...

Artikel Kesehatan 2

Bagikan Halaman Ini

Pentingnya Mekanisme Koping Adaptif dalam Menjaga Kesehatan Mental Setiap Individu

Gambar Artikel

Prevalensi kejadian stres menurut WHO tergolong cukup tinggi, yaitu dialami oleh lebih dari 350 juta penduduk di dunia. Sementara itu di Indonesia, sekitar 1,33 juta penduduk diperkirakan mengalami stres. Banyaknya permasalahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari membuat individu mengalami stres. Mekanisme koping yang adaptif sangat penting dalam mengatasi stres untuk menjaga kesehatan mental setiap individu.

Mekanisme koping merupakan cara seseorang yang dilakukan secara langsung dalam mengatasi kondisi yang sulit. Individu yang tidak memiliki mekanisme koping adaptif dapat mengakibatkan terjadinya perburukan kondisi baik fisik maupun mentalnya. Agar permasalahan fisik maupun mental yang terjadi akibat stres dapat dihindari, maka perlunya mekanisme koping yang adaptif dimiliki oleh setiap individu.

Mekanisme koping adaptif adalah cara yang dapat digunakan seseorang dalam melakukan penyelesaian masalah, mengatasi situasi yang mengancam, dan memahami perubahan yang terjadi. Respon yang dapat dilakukan dalam mengatasi permasalahan yaitu melalui pemecahan secara kognitif maupun perilaku. Mekanisme koping dapat bersifat konstruktif dan destruktif.

Dikatakan Mekanisme koping bersifat konstruktif, jika stres yang dialami individu dapat diterima sebagai tantangan dan adanya kesadaran diri untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sedangkan mekanisme koping yang bersifat destruktif, jika individu menghindari stres yang dialami tanpa adanya penyelesaian terhadap konflik atau stres yang dialami. Untuk itu individu diharapkan memilih mekanisme koping yang bersifat konstruktif.

Mekanisme koping yang dilakukan secara sadar dalam merespon stres yaitu dengan menggunakan sumber koping yang dimiliki oleh setiap individu. Hal tersebut dilakukan untuk menanggulangi konflik internal maupun eksternal. Sumber koping yang digunakan yaitu menyadari keterbatasan diri, beraktivitas dengan mengembangkan minat dan keterampilan yang ada pada diri, serta mampu untuk meningkatkan kehidupan menjadi lebih baik.

Mekanisme koping yang adaptif dan yang bersifat konstruktif, dapat kita wujudkan dengan melakukan aktivitas positif. Beberapa contoh aktivitas positif yang dapat dilakukan yaitu dengan berolahraga, meditasi & relaksasi, berbicara dengan orang yang dipercaya, menulis jurnal, mencari dukungan sosial, menetapkan tujuan & rencana, melakukan aktivitas yang menyenangkan, penerimaan terhadap kondisi atau permasalahan yang dialami, serta mencari bantuan profesional.

    1. Olahraga : Melakukan olahraga melalui aktivitas fisik dapat menimbulkan manfaat bagi tubuh. Olahraga yang baik akan dapat mengurangi stres karena merangsang pengeluaran hormon endorphin. Hormon Endorphin dapat memberikan rasa tenang, melepaskan ketegangan, dan mengurangi rasa sakit. Endorphin yang dihasilkan saat berolahraga akan menggantikan hormon stres dan membuat emosi lebih stabil.
    2. Meditasi & Relaksasi : Teknik relaksasi seperti meditasi, pernapasan dalam, dan yoga dapat dilakukan dalam membantu menenangkan pikiran dan tubuh setiap individu. Teknik relaksasi dapat menurunkan tingkat stres yang dialami seseorang, karena teknik ini dapat membuat tubuh menjadi rileks dan perasaan menjadi tenang. Teknik relaksasi, seperti meditasi, yoga, dan deep breathing, dapat membantu kita untuk mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan mental.
    3. Berbicara Dengan Orang Terpercaya : Berbagi perasaan dan pikiran dengan teman, keluarga, atau terapis dapat membantu mengurangi beban emosional. Salah satu dukungan yang dapat dipercaya berasal dari keluarga. Anggota keluarga pada dasarnya selalu mendukung dan memberikan pertolongan jika diperlukan.
    4. Menulis Jurnal : Mencatat pikiran dan perasaan dalam jurnal dapat membantu memahami dan mengelola emosi dengan cara yang tepat. Menulis jurnal dapat dilakukan dalam bentuk tulisan, gambar, yang manfaatnya dapat meredakan gangguan stres. Banyak aspek yang dapat diamati dan gunakan untuk menulis jurnal, mulai dari melihat suasana hati, memahami hubungan dengan seseorang, kesulitan yang dialami, penyebab dari tekanan batin, bahkan kegiatan-kegiatan sehari-hari yang biasa dilakukan.
    5. Mencari Dukungan Sosial : Membangun jaringan dukungan sosial yang kuat dapat memberikan rasa aman dan membantu mengatasi kesulitan. Membangun jaringan sosial sebaiknya dengan hubungan sosial yang positif, diharapkan jangan salah memilih tindakan, seperti penggunaan alkohol atau narkoba. Tindakan yang negatif akan memperburuk masalah kesehatan mental.
    6. Menetapkan Tujuan dan Rencana : Memiliki tujuan yang jelas dan rencana untuk mencapainya dapat memberikan rasa kendali dan tujuan dalam hidup. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan perlunya manajemen waktu yang efektif. Hal tersebut bermanfaat dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup, serta dapat menurunkan stres.
    7. Aktivitas yang MenyenangkanMelakukan hobi, membaca, atau menghabiskan waktu di alam dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan suasana hati. Aktivitas “healing” sederhana dapat dilakukan dalam menurunkan rasa Lelah, rasa jenuh dan sekedar memberikan jeda dan ruang waktu untuk diri sendiri. Hal tersebut dapat diberikan sebagai penghargaan pada diri.
    8. PenerimaanMenerima situasi yang tidak dapat diubah dan fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan sangat penting untuk dilakukan. Sebuah keputusan dengan penuh kesadaran dalam menerima keadaan diri dan masalah yang dihadapi apa adanya juga harus dipunyai oleh setiap orang. Jika individu melakukan penolakan terhadap kenyataan yang dialami, hal tersebut dapat menghambat proses penyembuhan atau penyelesaian suatu masalah.
    9. Mencari Bantuan ProfesionalJika masalah kesehatan mental semakin memburuk, jangan ragu untuk mencari bantuan dari profesional kesehatan mental. Konsultasi dengan profesional dapat memberikan dukungan emosional dan membantu merasa lebih baik. Jangan ragu untuk mencari bantuan profesional, karena kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa adanya mekanisme koping yang adaptif dan bersifat konstruktif bermanfaat dalam mengurangi stres dan kecemasan yang dapat memicu masalah kesehatan mental, meningkatkan resiliensi (pulih dari pengalaman negatif), meningkatkan Kesehatan mental secara keseluruhan dan mencegah masalah kesehatan mental yang lebih serius seperti depresi dan kecemasan.

Respon setiap individu dalam menghadapi stres berbeda-beda, tergantung bagaimana kepribadian, perspektif, dan kemampuan individu dalam mengatasi dan mengelolah stres. Maka sebaiknya, setiap individu dapat memilih dan menggunakan strategi koping yang adaftif dan bersifat konstruktif, agar stres yang dialami setiap individu tidak berakibat buruk pada kesehatan dan produktivitas.