Relaksasi stres adalah teknik untuk mengurangi atau menghilangkan stres melalui berbagai cara, seperti pernapasan dalam, meditasi, yoga, atau terapi musik. Teknik-teknik ini membantu menenangkan pikiran dan tubuh, mengurangi ketegangan, dan meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan.
Relaksasi autogenik dapat membantu menurunkan tingkat stres pada pasien yang berisiko perilaku kekerasan. Relaksasi autogenik adalah teknik relaksasi yang melibatkan sugesti diri dan imajinasi untuk menciptakan sensasi kehangatan dan berat di berbagai bagian tubuh, yang pada akhirnya dapat mengurangi ketegangan fisik dan mental.
Perilaku kekerasan menempati urutan teratas, berdasarkan laporan bulanan Griya Flamboyan Jiwa hampir lebih dari 50 persen di bulan Januari s/d Mei 2025 dari seluruh pasien di Rumah Sakit Jiwa & Ketergantungan Obat Engku Haji Daud Tanjung Uban. Perilaku kekerasan merupakan alasan utama pasien skizofrenia dibawa ke Rumah Sakit. Dampak dari perilaku kekerasan dapat menyebabkan cedera pada pasien, orang lain dan lingkungan sekitar. Perilaku kekerasan cenderung mengalami pengulangan. Pasien yang pernah melakukan perilaku kekerasan dapat mempunyai diagnosis keperawatan resiko Perilaku Kekerasan. Perilaku kekerasan akan mengalami pengulangan jika stressor eksternal masih ada dan kemampuan koping belum adaptif. Oleh karena itu, perlu adanya manajemen terhadap stres yang dialami. Stres yang berkepanjangan dapat menyebabkan berulangnya perilaku kekerasan. Salah satu manajemen stres yang dapat dilakukan adalah relaksasi autogenik. Tujuan praktik relaksasi autogenik ini adalah menekankan sugesti pada diri sendiri untuk lebih tenang, ringan, dan hangat sehingga tubuh menjadi rileks.